• LiveSmart Indonesia

Parenting di Negara Lain



1. Finlandia

Di Finlandia, sekolah dasar menyediakan waktu istirahat setiap 45 menit sepanjang hari. Pada waktu istirahat yang umumnya berlangsung selama 15 menit ini, anak-anak dapat menghirup udara segar di luar kelas atau bermain ke halaman sekolah. Alih-alih mengganggu pelajaran, teknik ini justru dipercaya dapat membuat anak belajar dengan lebih baik.

Jam sekolah di Finlandia juga lebih pendek, kadang-kadang hanya empat jam sehari. Pada jam pelajaran yang pendek tersebut, para pendidik Finlandia menekankan pada anak bahwa seni belajar, musik, ekonomi rumah tangga, dan keterampilan hidup sangat penting.

Secara turun-temurun di lingkungan keluarga maupun sekolah, anak juga ditanamkan tentang nilai-nilai kesetaraan, bukan dipacu untuk mengejar prestasi tinggi. Hasilnya? Sistem pendidikan di Finlandia dinilai sebagai salah satu yang terbaik di dunia dan pelajarnya sering menduduki peringkat terbaik kompetisi dunia.


2. Korea

Di Korea, makan diajarkan kepada anak-anak sebagai keterampilan hidup. Sejak kecil anak-anak Korea diajarkan bahwa waktu makan adalah saat yang istimewa dan setiap masakan akan terasa lebih lezat bila dinikmati bersama keluarga.

Itulah sebabnya, anak-anak di Korea dibiasakan menahan rasa lapar atau sedapat mungkin menunggu sampai tiba waktunya bagi seluruh keluarga untuk duduk dan makan bersama. Tidak ada tuh, anggota keluarga yang makan duluan karena sudah lapar meskipun ia masih kecil!

Semua anak juga akan makan lauk pauk yang sama dengan orang dewasa. Ini menjelaskan alasan restoran Korea tidak lazim menyediakan menu khusus untuk anak-anak dan kenapa anak-anak Korea tidak rewel atau jadi pemilih soal makanan.


3. Swedia

Studi menunjukkan bahwa hubungan orangtua-anak di Swedia cukup egaliter. Mereka mengasuh anak dengan demoktratis, terbuka, di mana orang tua dan anak-anak biasanya memiliki hak yang sama dalam satu keluarga. Ini berarti anak-anak didorong untuk mengekspresikan pendapat mereka dan secara aktif berpartisipasi dalam keputusan keluarga.

Swedia juga merupakan negara pertama yang melarang orangtua memukul atau memberi hukuman fisik pada anak. Ini termasuk mencubit, menjewer dan memukul bokong anak. Sejak Swedia memberlakukan secara resmi larangan ini di tahun 1979, puluhan negara-negara lain pun mengikutinya.


4. China

Di China, semakin besar seorang anak semakin sering dan tegas pula orangtua akan mengingatkan anak tentang kewajibannya kepada keluarga. Rasa tanggungjawab pada keluarga ini yang dipercaya dapat memacu anak untuk berprestasi dan bekerja keras.

Anak-anak China tumbuh dengan semangat untuk bisa 'membayar' kembali semua yang telah mereka dapatkan dari keluarga, sehingga berusaha mendapatkan nilai yang lebih baik di sekolah.


5. Jerman

Di Jerman, orang tua mendapatkan 'upah' mengasuh anak dari pemerintah yang disebut Kindergeld. Jumlahnya sekitar 200 euro atau 3,5 juta rupiah per bulan per anak, tergantung pada berapa banyak anak yang dimiliki pasangan. Uang itu dimaksudkan untuk membantu membayar popok, makanan, mainan, dll.

Orangtua memperoleh sejumlah uang ini sampai anak-anak mereka berusia 18 tahun. Jika anak itu tidak memiliki pekerjaan pada usia 18, maka orangtuanya akan tetap dibayar sampai mereka berusia 21 tahun, dan sampai usia 25 tahun jika anak tersebut masih berstatus sebagai pelajar siswa.


6. Vietnam

Di Vietnam, orangtua mengajari bayi-bayi mereka untuk buang air setiap mendengar bunyi peluit. Mungkin ini terdengar agak aneh, tapi penelitian menemukan bayi Vietnam biasanya sudah lepas popok atau mengerti cara menggunakan toilet di usia sembilan bulan!


7. Hong Kong, India, Taiwan dan Spanyol

Jam berapa anak Anda biasa tidur setiap malam, Parents? Orangtua di Hong Kong, India, Taiwan dan Spanyol umumnya baru meminta anak-anaknya untuk tidur kalau waktu sudah menunjukkan jam 10 malam!

Alasannya agar anak dapat terlibat dalam lebih banyak kegiatan keluarga. Selain itu mereka juga percaya tidur malam lebih baik untuk tumbuh kembang anak.


8. Prancis

Anda akan sulit menemukan anak-anak Prancis makan terburu-buru atau menolak makanan yang disediakan orangtuanya. Pasalnya anak-anak Prancis dikenalkan berbagai variasi dan rasa masakan sejak bayi, didorong untuk menyukai apa saja dan diberi waktu makan yang cukup lama agar bisa benar-benar menikmati makanannya.

Untuk orang Prancis, waktu makan adalah kesempatan untuk bersosialisasi, mencoba berbagai rasa baru dan menyukainya. Jadi tidak mungkin deh, makan buru-buru, mogok makan atau makan menu yang itu-itu melulu.


9. Afrika Tengah

Orang-orang dari suku Aka di Afrika Tengah, benar-benar paham betapa pentingnya peran ibu maupun ayah dalam pengasuhan. Ayah akan masuk ke peran yang biasanya diduduki oleh ibu tanpa perlu berpikir dua kali apalagi merasa kehilangan status maupun kewibawaannya.

Hasilnya? Mereka seringkali bergantian mengasuh anak sehari-hari. Sementara para ibu bekerja, para ayah mengurus anak di rumah. Esoknya, bisa jadi sebaliknya. Mereka kerap bergantian menjalankan peran.


10. Jepang

Di Jepang, orang tua menyiapkan anak-anak mereka untuk dapat mandiri sejak dini. Jadi jangan heran bila Anda melihat ada anak TK yang naik kereta bawah tanah sendiri di sana. Anak-anak memang dibiasakan untuk melakukan banyak kegiatannya sendiri, karena di Jepang semuanya serba mahal.


Stay tuned juga ya di platform Livesmart yang lainnya:

Facebook

Instagram

Spotify (Podcast)

Twitter

11 views
  • Green Lake City, Ruko Colosseum No.12, Cengkareng, Jakarta Barat

  • UNION SPACE 6th floor. PIK Avenue, Jl. Pantai Indah Kapuk, RT.6/RW.2, Kamal Muara, Penjaringan,

North Jakarta City, Jakarta 14470

©2020 BY LIVESMART INDONESIA

  • Facebook
  • Instagram
  • YouTube
  • Twitter - Black Circle
  • LinkedIn - Black Circle