• LiveSmart Indonesia

Parents! Ini Manfaatnya mengajarkan konsekuensi pada anak!

Updated: May 13



Menghadapi sikap anak yang sulit diatur, tidak disiplin dan selalu membantu memang sangat memusingkan. Terutama saat di rumah seharian seperti sekarang di masa social distancing. Hukuman biasanya jadi 'senjata' andalan orangtua, tapi sebenarnya ada yang lebih efektif dan mengena bagi anak, yaitu konsekuensi. Cara ini adalah dengan membuat dampak langsung pada sikap negatif anak.


Apa manfaatnya mengajarkan anak konsekuensi sedari dini?

1. Anak jadi terbiasa disiplin.

Dengan menerapkan konsekuensi, ini akan jadi membuat anak terbiasa untuk disiplin karena sudah menjadi kebiasaan bahkan sampai mereka dewasa nanti.


2. Mudah memecahkan masalah.

Anak yang memahami arti konsekuensi akan lebih mudah memecahkan masalah, saat anak mengetahui bahwa perbuatannya ada akibatnya, mereka akan bisa mencari tahu bagaimana agar tidak mengalami hal serupa yang bisa merugikan diri sendiri dan orang lain lagi.


3. Anak lebih bertanggung jawab.

Mengetahui setiap perbuatan yang dilakukan akan ada konsekuensinya, entah itu positif atau negatif, akan membuat mereka lebih bertanggung jawab dikemudian hari.


4. Mengasah logika anak.

Saat anak mendapat konsekuensi ketika melakukan kesalahan, hal ini akan membuat anak berpikir apa kesalahan yang sudah dibuat dan apa akibatnya jika hal tersebut didiamkan dan terus terjadi.


Lalu, bagaimana cara mengajarkan konsekuensi kepada anak?


1. Jelas dan spesifik.

Ketika mengajarkan anak, selalu perjelas dan spesifik tentang apa yang Anda harapkan dari mereka dan tentang apa yang perlu dilakukan. Ajarkan aturan lalu buat batasan bila aturan dilanggar. Dukung anak untuk konsisten memenuhi tujuan perilaku yang telah Anda ajarkan. Bila sulit, buat target kecil dulu dan lalu ditingkatkan.


2. Konsekuensi bukan hukuman.

Memang, memukul anak, memberinya time-out, atau konsekuensi logis akan mengajarkan anak untuk menghentikan perilaku yang tidak kita inginkan untuk saat ini.Tapi kebaikan yang diperoleh melalui hukuman hanya akan bersifat sementara karena didasari oleh ancaman dan rasa takut. Memukul anak juga kemungkinan mengajarkan anak tak apa memukul orang lain terutama bila mereka kecil dan tidak berdaya.


3. Memberikan contoh.

Ketika parents menerapkan apa yang sudah menjadi peraturan, maka anak akan mencontohnya. Sebaliknya ketika parents sendiri melanggar aturan yang sudah dibuat bersama, otomatis mereka juga akan berpikir bahwa sesekali melanggar peraturan itu tidak apa.


4. Berikan konsekuensi yang tepat.

Kadang konsekuensi alami bisa mengajarkan pelajaran paling baik. Anak yang sering lupa PR di rumah tidak akan belajar merapikan barangnya bila ibu mengantarkan PR ke sekolah tiap kali ia lupa. Anak perlu menghadapi konsekuensi dari guru untuk membuatnya disiplin. Di lain waktu anak perlu konsekuensi logis. Anak yang bermain terlalu keras dengan komputer ibu perlu punya aturan main. Atau anak yang sulit bangun di pagi hari perlu tidur lebih awal di malam harinya.

Penting untuk tidak memaksa anak. Memaksakan anak melakukan sesuatu tidak akan mengajarkan disiplin. Jelaskan konsekuensi negatif dari apa yang ia lakukan. Mengajarkan konsekuensi pada anak memang bukan perkara mudah, namun jika parents mulai sejak usia dini, maka anak akan terbiasa untuk diatur. Kuncinya adalah memberikan anak kesempatan untuk mengendalikan dirinya sendiri serta bertanggung jawab atas perilakunya.


Stay tuned at another Livesmart platform:

Facebook

Instagram

Spotify (Podcast)

Twitter

10 views
LOGO.png
  • Green Lake City, Ruko Colosseum No.12, Cengkareng, Jakarta Barat

  • UNION SPACE 6th floor. PIK Avenue, Jl. Pantai Indah Kapuk, RT.6/RW.2, Penjaringan, Jakarta Utara

Contact Us:

  • Facebook
  • Instagram
  • YouTube
  • Twitter - Black Circle
  • LinkedIn - Black Circle

©2020 BY LIVESMART INDONESIA