• LiveSmart Indonesia

Ciri-Ciri Anak Perfeksionis dan Cara Menghadapinya

Updated: May 13



Banyak orang tua yang bangga ketika anaknya tumbuh menjadi sosok yang perfeksionis atau menuntut semuanya harus serba sempurna. Padahal, sifat ini justru bisa menjadi bumerang bagi anak tersebut lho. Perlu Parents ingat, perfeksionis berbeda dengan pekerja keras. “Pekerja keras adalah mereka yang termotivasi untuk melakukan apapun sebaik mungkin, dan tidak masalah jika ternyata gagal. Sebaliknya, anak yang perfeksionis akan sangat terpuruk dengan caranya sendiri ketika yang dia ekspetasikan gagal.


Bagaimana parents bisa mengetahui ciri-ciri anak perfeksionis?

Yuk kita simak!

1. Sangat sensitif ketika dikritik

2. Kritis terhadap orang lain

3. Kesulitan menyelesaikan tugas (merasa tugasnya belum memuaskan)

4. Tidak bisa menerima kegagalan

5. Mudah malu


Setelah mengetahui ciri-ciri ini, Bagaimana cara menghadapi anak yang prefeksionis?


1. Jangan membandingkan ia dengan anak lain.

Membandingkan anak kita dengan teman atau saudaranya akan membuat anak kita kehilangan kepercayaan diri dan menganggap diri tidak bisa melakukan apapun sebaik orang lain. Maka dari itu, parents sebaiknya support strength anak kita dan meningkatkan kepercayaan dirinya dengan wajar.


2. Berikan pujian yang efektif, jangan berlebihan.

Ketika anak mengerjakan sesuatu, puji dia. Jangan berpatok kepada hasil yang sempurna, namun hargai kerja kerasnya dan niatnya ketika ingin melakukan sesuatu.


3. Hindari penggunaan kata sempurna, jenius, brilliant.

Hal ini akan menjadi pressure tersendiri bagi anak untuk menjadi sempurna disetiap kesempatan agar tetap mendapat label “perfect”


4. Dengar keluhannya, dan berikan solusi.

Ketika anak sedang menghadapi sesuatu, mereka butuh pendengar, dan pemberi solusi. Ketika anak bercerita, luangkan waktu untuk mendengarkannya. Hal ini akan membuat anak merasa disayangi dan tidak kesepian.


5. Beri pengertian untuk tidak takut membuat kesalahan.

Setiap manusia tidak ada yang sempurna, jadi tidak apa melakukan kesalahan sesekali. Berikan contoh-contoh motivasi orang-orang hebat yang pernah gagal namun tidak putus asa dan frustrasi. Hal ini akan mempermudah memberikan pengertian pada anak.


6. Jangan menghakimi sifatnya yang mudah takut, sedih, dan frustrasi. Sebaliknya, parents harus menyemangati anak untuk tetap percaya diri dan berusaha yang terbaik. Jangan mengomeli atau menghujani anak dengan nasihat-nasihat. Anak akan merasa parents tidak memahami situasi anak tersebut dan parents tidak peduli kepada mereka.


Orang tua sebaiknya tidak terlalu mengendalikan anak-anak mereka, tidak terlalu kritis, dan tidak terlalu melindungi anak-anak mereka. Orang tua perlu mengajarkan anak-anak mereka untuk memaklumi kesalahan mereka dan mengambil pelajaran darinya sambil bahwa menekankan kerja keras dan disiplin lebih penting daripada mengejar kesempurnaan yang tidak realistis.


Kasih sayang tanpa syarat–yaitu ketika orang tua menghargai anak-anak bukan hanya dari kinerja, peringkat, atau penampilan mereka–tampaknya menjadi obat penangkal yang baik untuk perfeksionisme.


Stay tuned at another Livesmart platform:

Facebook

Instagram

Spotify (Podcast)

Twitter

3 views
  • Green Lake City, Ruko Colosseum No.12, Cengkareng, Jakarta Barat

  • UNION SPACE 6th floor. PIK Avenue, Jl. Pantai Indah Kapuk, RT.6/RW.2, Kamal Muara, Penjaringan,

North Jakarta City, Jakarta 14470

©2020 BY LIVESMART INDONESIA

  • Facebook
  • Instagram
  • YouTube
  • Twitter - Black Circle
  • LinkedIn - Black Circle